Begini Logika Jokowi Tidak Memilih Mahfud MD

Berita Tercepat – menyajikan informasi yakni Begini Logika Jokowi Tidak Memilih Mahfud MD yang sedang hangat dan viral diperbincangkan netizen.

Begini Logika Jokowi Tidak Memilih Mahfud MD

Sebenarnya saya bukan orang yang paling kecewa dalam cawapres Jokowi kali ini. Namun, atas dasar etika kemanusiaan saya berempati kepada Mahfud MD. Dua kali Pilpres Jokowi ‘mem-php-kan’ Mahfud MD. Jika Mahfud tidak memiliki jiwa yang lapang, dia akan marah dan kesal. Ini adalah jika ksatria yang dimiliki oleh seorang negarawan. Harus kita acungi jempol.

Sebenarnya dari tulisan ini saya ingin mengulas peta pencaturan NU dan Mahfud MD dalam Pilpres 2019. Golongan NU menjadi golongan yang seakan diutamakan untuk mendukung Jokowi. Manuver yang dilakukan PBNU terkesan menunjukan kekuatannya kepada Jokowi. Jokowi seakan lupa, pada 2014 lalu, dia tidak didukung oleh PBNU.

Beberapa waktu lalu, Gus Rommy mengumumkan 10 bakal cawapres Jokowi. Lima diantaranya adalah golongan NU. Siapa saja? Gus Rommy, Muhaimin Iskandar, Maaruf Amin, Mahfud MD dan Said Aqil. Namun, Gus Rommy ini kita coret karena dia NU dari kalangan PPP. Harus diakui, NU saat ini adalah NU yang berada di struktur dari PKB.

Jadi bertarungan orang NU ada empat orang. Setelah menjadi empat orang, kita akan membaginya menjadi dua. NU kalangan tua dan NU kalangan muda. Kalangan tua terdiri dari Maaruf Amin dan Said Aqil. Golongan muda yaitu Mahfud MD dan Cak Imin. Sebenarnya, golongan tua menjadi minim dipilih oleh Jokowi.

Saya sejak awal memprediksi bahwa NU golongan tua hanya akan diberi wantimpres Jokowi. Orang-orang PBNU sudah mengetahui bahwa kalangan NU tua ini akan sulit dipilih. Satu-satunya mendorong NU muda untuk menjadi cawapres Jokowi. Salah satunya dengan membunyikan PBNU merekomdasikan Cak Imin.

Siapa saja yang membunyikan? Dia adalah Sekjen PBNU, Helmi Faishal Zaini, dan Wakil Ketua PBNU, Robikin Emhas. Keduanya adalah kader parpol PKB. Jadi pertarungannya adalah NU kalangan muda. Siapa yang tersisa? Yang tersisa adalah Mahfud MD dan Cak Imin. Kalangan tua ini sebenarnya sepakat untuk memilih Cak Imin. Namun, Cak Imin merupakan ketua partai.

Kita sama-sama mengetahui, bahwa ketua partai menjadi orang yang dihindari oleh Jokowi untuk menentukan cawapres. Artinya, calon kuat ada di Mahfud MD. Sebenarnya, Kiayi Said ini cukup kejam. Di mana demi masuknya Cak Imin, Mahfud MD dibunuh dengan kalimat bulan dari kalangan NU. Ini sangat menyakitkan, kadernya sendiri dibunuh oleh pimpinnya.

Said Aqil ini membunuh Mahfud MD dengan kalimat ‘bukan kader NU’. Lalu, kaderisasi NU ini yang mana? Tataran mana yang harus dilalui untuk menjadi kader NU? Harus yang memiliki kartaNU? Pendidikan NU ada disetiap jenjang dan banom NU. Mahfud masuk dalam kepengurusan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) periode 2012-2017. Di sana, dia menjadi Ketua Dewan Kehormatan.

Pembentukan ISNU ini sudah berdasarkan sepengetahuan dari Said Aqil. Untuk menjadi kader NU, ada banyak jenjang pendidikan dari banom NU. IPNU, PMII, Ansor, Fatayat, Muslimat dan lainnya. Haruskan masuk dari pendidikan tersebut?

Ini ucapan paling kejam dari seorang pemimpin NU. Namun, ‘bunuh’ dan ‘membunuh’ kader NU sudah terjadi sejak lama. Baik senior maupun junior atau sesamanya. Jadi tidak heran jika Said Aqil ini ‘membunuh’ Mahfud MD yang menyebutkan bukan kader NU.

Apakah Cak Imin merupakan kader NU? Cak Imin tercatat sempat menjadi ketua umum PB PMII. PMI saat ini menjadi banom dari NU. Sementara Mahfud MD lahir dari HMI. Pertarungan di akar rumput isukan agar kader dari PMII harus menjadi manggung. Dalam konteks PMII dan HMI, kedua organisasi mahasiswa tersebut selalu menjadi rival politik dalam situasi apapun.

Trah NU saat ini memang sangat jelas di PMII. Namun, keberadaan PMII di dalam tubuh NU masih harus menunggu beberapa waktu lagi. Kembali membahas Cak Imin dan Mahfud MD. Dua calon tersebut sama-sama memiliki basis massa. Cak Imin memiliki basis massa dari PKB dan PMII. Mahfud MD dari anak muda HMI.

Di tataran akar rumput terdapat isu Cak Imin adalah NU-PMII. Sedangkan Mahfud MD adalah NU-HMI. Kalangan NU-PMII ini cukup besar rupanya. Perdebatan Cak Imin dan Mahfud MD menjadi perdebatan yang alot di kalangan kader muda NU. Namun, tetapi sampai kapanpun sensitifitas tersebut tidak akan hilang.

Pola pikir di mana HMI menghalalkan segala cara untuk meraih sebuah posisi menjadi mainset kalangan PMII. Pola pikir tersebut diterapkan kepada Mahfud MD. Namun, kita lupa bahwa Cak Imin menggulingkan Gus Dur dengan segala cara. Rasanya memang tidak adil jika diambil sensitifitas NU-PMII dan NU-HMI untuk dua orang tersebut. Namun, itulah yang terjadi di kalangan kader muda NU.

Sebenarnya, nama Mahfud MD ini lebih bersih dari Cak Imin. Cak Imin sempat tersandung kasus korupsi ‘kardus durian’. Kasus tersebut, tinggal dikeluarkan kapan saja oleh KPK. Hal ini juga dibenarkan oleh Yenny Wahid. Jokowi pun sudah mengantongi nama Mahfud MD sejak Rabu Sore. Namun, ini menjadi pilihan berat bagi Jokowi ketika mengambil kalangan muda NU.

Akhirnya, Jokowi mengambil pilihan pada NU tua. Perpecahan pun akan diredam lebih kecil. Ini memang sangat menyakitkan bagi Mahfud MD. Saya hanya mendoakan Mahfud MD semakin lapang dada atas pertarungan politik yang terjadi.

Baca Juga :

Supported by : Agen DominoQQ , Agen BandarQ , Taruhan Bola Online

Updated: August 10, 2018 — 06:16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kumpulan Berita Tercepat Indonesia © 2018 Frontier Theme